INFOWAW.COM–TUBABA. Program Asuransi untuk Petani yang mengalami gagal panen musim tanam pertama 2019 kabupaten Tulangbawang Barat (Tubaba) Lampung, menuai banyak pertanyaan bagi masyarakat Petani.

Berdasarkan pantauan Infowaw.com, masyarakat Petani yang telah tergabung di Kelompok Tani dan telah mendaftar program Asuransi tersebut hingga kini tidak ada kepastian apakah akan diganti rugi atau tidak sawah mereka yang telah mengalami kekeringan sehingga terjadi gagal panen.

Menurut Eko warga dari Tiyuh (Desa) Margodadi Rk 2 kecamatan Tumijajar Kabupaten Tubaba, bahwa program itu untuk ganti rugi jika terjadi gagal panen, dan masyarakat Tani pun sudah banyak mendaftar dengan menyerahkan fotocopy KTP dan uang Rp 10 ribu.

“Bagi yang gagal panen musim tanam pertama kemarin mendapat bantuan itu, dan seharusnya sudah keluar sebelum lebaran kemarin, tapi sampai saat ini belum ada kabar.” Kata Eko saat dijumpai Infowaw.com dikediamannya pada (1/7/2019).

Di tempat terpisah Satrimo pengurus Gabungan Perkumpulan Petani Pemakai Air (GP3A) saat ditemui di kediaman nya membenarkan, adanya bantuan asuransi dan daftarnya dengan menyerahkan Fotocopy KTP dan Uang administrasi RP 10 Ribu.

“Ya, dikumpulkan ke saya atas perintah ketua saya namanya pak Sujiono, itu prosesnya waktu mau memasuki musim tanam padi pertama. Memang musim tanam pertama ini petani banyak yang mengalami gagal panen, dan itu sudah kita laporkan ke penyuluh disini namanya Prasojo. Dan itu sudah dua kali dilakukan peninjauan untuk melihat sawah yang mengalami gagal panen. Tapi hingga sekarang belum ada kepastian, katanya nunggu peninjauan ketiga kalinya oleh Tim penyuluh untuk memastikan dan melapor ke Jasindo.” Tegasnya.

Lanjutnya, sejak terjadinya gagal panen untuk musim pertama ini, masyarakat banyak mengeluh soal asuransi tersebut, karena dinilai terlalu bertele-tele dan belum pasti.

“Sedangkan sekarang sudah memasuki musim tanam kedua, namun masyarakat belum menanam karena katanya harus nunggu kepastian asuransi terlebih dahulu. Jika petani menanam ataupun membajak sawahnya, maka asuransi tidak akan berlaku walau musim tanam pertama kemarin terjadi gagal panen. Akhirnya petani kebingungan harus berbuat apa karena serba salah. Jika ini dibiar-biarkan petani akan lebih banyak mendapat kerugian akibat gagal panen dan musim tanam kedua tahun ini terlewat, ditambah lagi jika asuransi itu tidak keluar.” Ujarnya.

Sementara Kepala Dinas Pertanian Tubaba Syamsul Komar, terkesan arogan saat pawarta mengkonfirmasi terkait Asuransi bantuan bagi para petani yang mengalami gagal panen. Bahkan Dinas Pertanian Kabupaten Tubaba tidak transparansi terhadap masyarakat Petani dengan program Asuransi tersebut

“Untuk bantuan gagal panen itu pemerintah dan dinas tidak pernah ada program itu, jadi tolong katakan pada orang yang mengatakan ganti rugi karena gagal panen itu tidak ada. Yang ada program Asuransi jika terjadi gagal panen, itupun ada syarat ketentuan.”kata Samsul Komar saat dijumpai Infowaw.com pada (1/7/2019) Pukul 08.19 Wib.

Bahkan saat ditanya lebih jauh terkait petani yang mendaftar asuransi dengan mengumpulkan Fotocopy KTP dan uang Rp 10 Ribu, pihaknya tidak tahu.

“Kalau pengumpulan Fotocopy dan uang Rp 10 Ribu itu saya tidak tahu, coba tanyakan padanya itu dikumpulkan dengan siapa, Uang untuk apa, dikasihkan sama siapa, jadi harus jelas. Jadi itu tidak benar, jangan desak saya untuk mengatakan itu iya. Tidak ada bantuan itu.” Ungkapnya.

Terpisah, menurut Sutrisno Kabid Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) dan Penyuluhan Dinas Pertanian mengatakan.

“Bantuan itu namanya Asuransi Jasindo, jadi kalau dia terjadi gagal panen maka akan mendapat Asuransi tersebut. Asuransi ini Preminya Rp 180 Ribu dan disubsidi pemerintah Rp 144 Ribu, jadi petani hanya bayar 36 ribu saja jika ingin mendaftar asuransi ini. Jadi kalau terjadi gagal panen pemerintah sudah mengantisipasi dengan asuransi tersebut.” Kata Sutrisno yang semakin tidak sinkron dengan permasalahan ini.

Dia menjelaskan untuk para petani yang sawahnya mengalami gagal panen maka 1 hektar nya para petani mendapatkan asuransi gagal panen tersebut merupakan uang sebesar 6 juta/hektar nya.

“Syarat petani yang ingin mendaftar asuransi ini, yaitu dengan cara mendaftarkan nama dan luas sawahnya beserta uang premi itu melalui kelompok tani. Daftarnya melalui aplikasi khusus secara online, kalau terjadi gagal panen maka petani tinggal laporan yang juga melalui aplikasi online didampingi juga bersama tim penyuluhnya, jadi nanti laporan itu akan langsung masuk ke Jasindo dan Dinas kita, kemudian baru tim OPT dan Penyuluh akan meninjau langsung sawah yang mengalami gagal panen tersebut.” Terangnya.

Sedangkan menurut pengakuan Ketua Penyuluh Tiyuh Margodadi Prasojo menyebutkan.
“Fotocopy KTP itu diserahkan ke saya dah kalau uang nya itu saya yang kirim melalui ATM langsung ke Jasindo. Kalau untuk uang Rp 10 Ribu saya tidak paham, karena ketentuannya Fotocopy KTP dan Uang Rp 36 Ribu yang sesuai ketentuan, jadi uang 10 ribu saya kurang tahu.” Imbuhnya.

Dia menambahkan, untuk saat ini memang petani mengalami gagal panen, semua sawah yang gagal panen itu sebanyak 37 Hektar , namun yang baru di klaim jasindo sebanyak 30 hektar. (Rian).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here